Ajari anak 4 hal ini, agar anak bermental pejuang dan tidak manja

"waktu saya dulu ikut SMPTN masuk ITB, sampai harus nginep di mesjid, Tan. Karena bekal dari orang tua hanya cukup buat pulang pergi dan makan seadanya. Tapi alhamdullilah saya keterima masuk ke jurusan Geofisika di ITB". Begitu tutur salah satu senior saya waktu bekerja di Tempo dulu. Beliau salah satu sample orang yang sukses di tempat perantauan. Padahal beliau berasal dari keluarga petani biasa dari daerah terpencil daerah Medan. Bahkan mungkin saat itu mungkin ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Bandung, beliau hanya berbekal informasi secuil dari koran, karena akses informasi tidak seperti jaman internet seperti sekarang.

Saya semakin penasaran apa yang diajarkan orang tua mereka sehingga mereka dapat mendidik anak yang super hebat ini dengan segala keterbatasan. Beda dengan anak-anak di kota yang memiliki mental lebih memble dalam memperjuangkan impian mereka (khususnya sekolah) karena alasan keterbatasan. Misalnya saja teman bermain saya ketika kecil dulu, dia memilih untuk langsung bekerja ketika selesai sekolahnya di SMK, saya coba tanya alasan dia cuman jawab "saya tidak mau memberatkan orang tua membiayai kuliah saya". Wah sayang juga kalau saya fikir, saat orang lain berjuang jauh datang dari berbagai pelosok untuk berjuang bersekolah di tempat favorit di Bandung dia cuman pengen kerja dengan lulusan SMK. Padahal pendidikan itu salah satu jalan untuk mengubah nasib seseorang.

Pertengahan Agustus kemarin, saya ditugaskan mengikuti kegiatan workhosp di Jakarta. Kebetulan saya sekamar dengan orang Medan yang merantau dan ditugaskan di Sulawesi. Seperti biasa kami bercerita tentang perjuangan masa lalu, dan uniknya mental teman sekamar saya ini juga sangat keren. Pengalaman unik yang ia ceritakan, bagaimana ketika menempuh studi S-2nya di yogyakarta ia bertahan hidup dengan mengirim artikel ke media cetak dan lomba-lomba tulisan. Dari teman sekamar ini akhirnya saya menyimpulkan beberapa tips agar anak kita tidak bermental tempe dan memble, tapi sebaliknya memiliki mental pejuang.

1. Libatkan anak untuk membantu pekerjaan orang tuanya

Teman sekamar saya ini dulunya anak seorang petani biasa, setiap hari beliau diajak orang tuanya untuk pergi ke sawah membantu mencangkul, menanam padi dan memanen. Ternyata kebiasaannya membantu orang tua ini menimbulkan dampak positif.  Proses bertani mengajarkan beliau bahwa untuk menuai hasil panen padi yang bagus, mereka harus berjuang keras membajak sawah, merawat padi dan melindunginya dari berbagai serangan hama. Pola pengajaran ini juga diterapkan oleh orang China yang memiliki orang tuanya sebagai pedagang. Mereka selalu melibatkan orang tua mereka untuk membantu berdagang.

Ternyata dengan melibatkan anak dalam proses orang tua bekerja mereka secara langsung belajar bersabar jika sang keluarga petani belajar bersabar dalam setiap proses tahapan sebelum panen padi, maka keluarga dari etnis China mengajarkan anak mereka untuk bersabr menghadapi pelanggan, bekerja keras bagaimana agar dangan mereka laku.

Sikap sabar dan menghargai proses ini sangat penting dimiliki oleh setiap anak, sehingga dalam menghadapi hari-hari kedepannya anak bisa mandiri, ketika menghadapi ujian bagi mimpinya ia akan tahan banting. Ini mungkin yang menyebabkan mental anak-anak di kota yang bermental memble padahal segala fasilitas tersedia, merek terbiasa dengan segala hal yang instan tanpa sabar menghadapi proses.

2. Motivasi anak dengan mimpi yang besar, dan jangan mengukur kekuasaan Allah!

Teman sekamar saya bercerita bahwa ketika kecil sebelum tidur orang tuanya suka bernyanyi dan menyampaikan tujuan hidup orang batak harus mengejar “Hagabeon (keturunan laki-laki), Hasangapon (kehormatan, kemuliaan, terpandang di masyarakat), Hamoraon(kekayaan yang kelimpahan secara materi)”. Secara tidak lansung, ternyata orang tua teman sekamar saya ini menginternalisasikan impian yang besar kepada anaknya agar mencapai tujuan itu. Sehingga ketika mereka merantau mereka kan terus menginat tiga hal itu, yang akan terus menarik ke jalur impiannya ketika mereka melenceng.

Pentingnya memotivasi anak untuk mencapai impiannya, orang tua yang sukses memotivasi anak tidak perlu repot-report menyuruh anak belajar dengan sendirinya mereka akan fokus pada impiannya dan menghadapi setiap prosesnya dengan gigih. Dan tentunya sebagai seorang muslim, anak harus dimotivasi tidak hanya sukses di dunia tapi di akhirat. Sehingga dalam mencapai impiannya anak tidak menghalal segala cara, tapi sejalan dengan rambu-rambu agama.

3. Berinvetasi bagi pendidikan anak yang baik tidaklah rugi!

"Biarlah kami orang tuamu bersusah payah, yang penting kamu sekolah yang benar, kamu merantaulah!" salah satu kalimat yang teman sekamar saya katakan. Saat menjadi orang tua fokusnya bukan diri sendiri lagi, tapi anak. Dan prinsip semua orang tua adalah anak harus lebih baik dari orang tuanya. Menurut saya jangan biarkan anak merasa berasalah atau ia merasa terbebani ketika harus mengejar impiannya, nyambung dari cerita kedua tadi bahwa teman saya di kota merasa kalau kuliah ini takut membebani orang tuanya. Padalah dengan ia berkuliah dan sukses ia akan mengangkat derajat orang tuanya dan mungkin membahagiakan orang tuanya lebih dari usahanya sekarang sebagai kasir.

4. Tawakal dan terus Berdoa

Semua apa yang kita usahakan bermuara pada keputusan yang terbaik menurut Allah swt, akan tetapi sebagai orang tua terutama ibu Allah berjanji bahwa doanya mustajab untuk anaknya. Maka para ibu berdoa yang baik-baik ya bagi anaknya, baik doa secara sadar maupun celetukan-celetukan yang menjadi doa. 😀

Nah sekian oleh-oleh saya dari temaan sekamar saya ketika tugas kemarin ke Jakarta, semoga menginspirasi.