Belajar Menghargai Karya dari Pak Raden “Si Unyil”

by : mayangmoy

alm. Pak Raden via antaranews.com



“Waduh biyung encokku kumat”

Dengan logat Jawanya, kalimat ini seringkali dikatakan pria berkumis tebal dengan setelan beskap hitam serta blangkon dan tongkat ciri khasnya apabila diajak kerja bakti oleh tetangganya. Pria yang wajahnya terlihat galak itu tak lain adalah Pak Raden, tokoh dalam film anak zaman dulu yang sangat populer, yakni film Si Unyil.

alm. Pak Raden via antaranews.com

Tokoh ini digambarkan sebagai sosok pensiunan yang telah mengalami penjajahan Belanda dan Jepang. Pak Raden juga digambarkan sebagai sosok ningrat yang sombong, kikir, tidak suka gotong royong dan pemarah sehingga seringkali buah mangganya dicuri oleh Pak Ogah. Yang selalu diingat dari Pak Raden adalah kumis tebalnya serta tongkatnya yang selalu ia bawa kemana-mana.

Sosok Pak Raden dalam Film Si Unyil ternyata dibuat oleh Drs. Suyadi, atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan Pak Raden. Karena Suyadi sendiri yang langsung memerankannya. Dalam berbagai kesempatan pun, Suyadi seringkali berpakaian mirip dengan Pak Raden.

Drs. Suyadi lahir pada tanggal 28 November 1932 di daerah Puger, Jember, Jawa Timur. Beliau adalah pencipta tokoh Si Unyil beserta kawan-kawannya di Film Si Unyil. Selain sebagai kreator boneka Si Unyil, ia juga dikenal sebagai pelukis, penulis buku anak dan pendongeng. Drs. Suryadi merupakan alumni Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung, beliau masuk ITB pada tahun 1952 dan lulus pada tahun 1960. Setahun setelah lulus dari ITB, beliau meneruskan studi ke Prancis demi belajar animasi di Les Cineastes Associes dan Les Films Martin-Boschet (1961-1963).

Bakat seni Suyadi sendiri sudah terlihat sejak masih belia. Sejak kecil ia sudah suka dengan menggambar, bahkan ia bisa menggambar dengan berbagai media. Ketika ia kehabisan kertas dan alat tulis, ia mampu menjadikan arang dan dinding rumahnya menjadi alat untuk menyalurkan kreativitasnya. Bahkan ketika masih menjadi mahasiswa, Suyadi sudah mampu menghasilkan beberapa karya berupa buku cerita anak bergambar dan film pendek animasi. Bagi kalian yang kelahiran 70-90an pasti masih ingat dengan buku pelajaran Bahasa Indonesia “Ini Budi”, gambar-gambar pada buku tersebut merupakan coretan tangan dari Pak Raden ini.

Anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini pernah terlibat langsung dalam serial Si Unyil pada tahun 1980 sampai 1991. Beliau membuat beberapa karakter boneka untuk serial ini. Boneka yang ia ciptakan bukan sembarang boneka, tapi boneka yang ia ciptakan dalam serial Si Unyil selalu mengandung nilai dan arti. Nilai moral dan edukatif. Seperti dalam boneka Si Unyil, ia menggambarkan boneka ini sebagai anak Indonesia yang setia kawan, religious dan gemar mengeksplorasi pengetahuan.

Saat itu serial Si Unyil menjadi salah satu acara favorit anak-anak setiap Minggu pagi di TVRI. Serial Si Unyil sendiri dibuat untuk mendidik anak-anak melalui acara televisi. Kemudian pada tahun 2000-an, acara Si Unyil diformat ulang suapaya sesuai dengan era milenium, sehingga tetap dapat digemari anak-anak Indonesia. Hasilnya bisa kita lihat sampai sekarang di Laptop Si Unyil yang tayang disalah satu tv swasta nasional.

Selain terlibat dalam serial Si Unyil, seniman multi talenta ini juga pernah membuat film animasi yang berjudul Timun Mas pada 1975 dan selesai pada  1984. Film tersebut menjadi salah satu maha karya darinya.

Dimasa tuanya, Pak Raden tak bisa menikmati buah dari hasil karyanya. Ia tak bisa mendapatkan royalti dari serial boneka Si Unyil. Karena hak cipta dari boneka Si Unyil sudah diserahkan kepada Perum Produksi Film Negara (PFN) pada 1995. Membahas sedikit tentang hal  ini, menurut Pak Raden, hak cipta Si Unyil telah diserahkan kepada PFN pada 1995 untuk jangka waktu 5 tahun sampai tahun 2000. Tapi entah apa yang terjadi, hingga sebelum Pak Raden meninggal, beliau masih memperjuangkan haknya untuk mendapatkan hak cipta boneka Si Unyil kembali ke tangannya.

Pak Raden meninggal meninggal dunia pada Jumat (30/10/2015), pukul 22.20 WIB, di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Mirisnya, sebelum meninggal sosok legendaris ini berada dalam kondisi ekonomi yang morat-marit ditambah fisiknya yang sering sakit-sakitan.

Melihat dedikasi Drs. Suyadi yang mencurahkan hidupnya untuk kemajuan budaya dan juga pendidikan anak-anak Indonesia, seharusnya kita dapat menghargai hasil karyanya, bukan malah “mencuri” haknya.

Belajar dari Pak Raden, seharusnya kita semua selalu semangat untuk memajukan negeri ini dalam bidang apapun. Khusus bagi para seniman, agar lebih peduli terhadap karya-karyanya dan karyanya tidak “dicuri” seperti yang dialami alm. Pak Raden, kalian harus mendaftarkan hasil karya kalian ke departemen terkait, supaya hasil karyanya dapat terlindungi. (kolase/dari berbagai sumber)

 

alm. Pak Raden via antaranews.com

Populer